Laman

Minggu, 06 April 2014

Adakah yang bisa mendengarkanku?

Bukankah perasaan itu, Allah yang menumbuhkan?
Ini hanya tentang bagaimana kamu mengendalikan rasa itu, bagaimana menyandingkannya dengan cinta pada Allah SWT, dan bagaimana kamu menjemputnya.
Ia abstrak, hanya dapat dirasakan tanpa dapat dijelaskan.

Rasa itu, bukan aku yang memintanya tumbuh. Allah yang menitipkannya padaku sebagai amanah. Ujian dengan membolak-balikkkan hati ini. Aku pun tak pernah meminta ia harus berlabuh pada siapa. Jika aku yang memilih, tentu kan kupilih seorang lelaki hebat yang baik pemahaman dinnya, yang takut pada Allah, dan seorang yang hanif dan berakhlak baik. Namun tetap kupanjatkan do'a, agar mendapatkan lelaki seperti itu. Agar kelak dapat menjadi imam dalam bahtera hidupku dan anak-anakku nantinya.

Tapi, ternyata bukan. Allah titipkan rasa itu pada lelaki yang biasa saja. Biar aku lukiskan.

Apakah din nya baik? Allahu'alam. Yang aku tau, ia mengerti sedikit banyak tentang islam, karena orangtuanya. Ia sholat, namun masih sering tidak lengkap. Tentang yang lain? Aku tak tahu.

Apakah ia tampan? Semua ciptaan Allah, tentulah sempurna. Tak ada cacat padanya, namun tidak jugalah tampan yang dapat menggetarkan hati. Ia biasa saja.

Apakah ia memiliki kelebihan dalam hal harta? Allahu'alam. Yang aku tau, ia hanya dari keluarga yang sederhana. Tapi dapat mencukupi keseluruhan kebutuhan, tanpa kurang satu apapun. Ia berkecukupan, tapi bukanlah seorang yang kaya.

Apakah ia berasal dari keturunan yang baik-baik? Aku hanya tau, bahwa ayahnya seorang yang dihormati. Sering memberikan ceramah, tapi juga bukan seorang ustadz. Ayahnya sangat menekankan semua anak-anaknya dalam hal sholat..

See?
Itu adalah 4 kriteria dalam memilih pasangan. Apa yang kalian pikirkan? Tentu sangat kurang di poin yang utama, bukan? Dinullah..

Hingga saat ini, aku juga tidak mengerti apa yang mendatangkan rasa itu. Mungkin karena terbiasa, mungkin karena ia baik, mungkin karena ia humoris, mungkin karena ia masuk di saat yang tepat, atau Allah ingin menguatkanku? Allahu'alam.

Aku bersyukur luar biasa pada Allah, yang selalu menutup aib-aib ku. Aku bersyukur pada Allah karena membuat orang lain menilaiku sebagai sosok dengan ekspektasi yang tinggi.

Disinilah ujiannya.
Menurutku, kadang ia memang membawa pengaruh buruk padaku. Tapi selagi ada Allah yang membantuku untuk membentengi diri, aku merasa sanggup dengan titipan ini. Tak jarang juga aku yang mengingatkannya agar ia menghindari perilaku dan kebiasaan buruknya yang tidak baik.
Tapi tidak begitu dengan mama, adik-adikku, dan teman-temanku. Hanya papa yang bisa mendengarkanku mengenai dirinya. Walaupun aku belum seutuhnya cerita kepada papa.

Lalu bagaimana dengan yang lain?
Semua menganggap, ia tak pantas untukku. Karena ekspektasi itu. Mereka tak suka dengannya, walaupun hanya mendengar cerita tentangnya. Semua beranggapan, bahwa ia berpengaruh buruk padaku. Cara ia masuk ke dalam duniaku, mulai meruntuhkan bentengku satu per satu. Ya Allah..

Allah, sungguh.. InsyaAllah aku takkan berkenalan dengan yang namanya pacaran, selalu berusaha menjaga diriku, hatiku, imanku. Tak ingin tergoyahkan.
Tapi aku butuh dikuatkan agar dapat melakukannya. Aku tak bisa langsung menjauh darinya. Bukan cara itu yang ada dibenakku. Bukan dengan memutus sillaturrahmi. Jika saja Rasulullah saw dulu menjauhi semua orang yang berperilaku buruk, maka tak ada orang baik di dunia ini kecuali para Nabi dan Rasul.
Orang-orang boleh membenci sikapnya. Tapi jangan benci dirinya.
Dia temanku, orang yang baik. Namun pemahamannya belum baik. Tapi setiap orang berhak diberi kesempatan untuk berubah.

Aku tak berniat membelanya. Tak berniat pula untuk merubahnya. Aku hanya mengingatkan, karena petunjuk itu Allah yang menentukan pada siapa yang dikehendakinya.

Aku hanya ingin orang-orang terdekatku bisa mendengarkan ceritaku tentangnya. Bagaimana baiknya dia, dan bagaimana berusahanya aku mengendalikan amanah ini. Agar ada yang senantiasa menguatkan imanku, selalu menasihatiku saat itu salah.
Bukannya hanya menjudge tanpa tau orangnya bagaimana. Bukan hanya tak suka dengannya, sehingga membenci topik mengenai dirinya.
Aku bercerita, karena aku butuh bantuan.
Dan yang bisa memberikan nasihat itu, adalah orang-orang terdekatku.

Teriris-iris, saat tak ada tempat mengadu.
Kecuali pada Yang Maha Tau, Robbku. Maha Pembolak-balik hati..